Action Youth 13: Sa Bisa, Ko Bisa, Torang Bisa

Di akhir Januari 2025, program Action Youth 13 berhasil dilaksanakan di Desa Paam, sebuah wilayah terpencil di Waigeo Barat, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Untuk mencapai desa ini, para relawan menempuh perjalanan selama lima hari, dimulai dari Surabaya menggunakan kapal Pelni selama empat hari, dilanjutkan dengan kapal feri dari Sorong selama satu hari. Perjalanan yang panjang dan menantang ini menjadi titik awal dari sebuah pengabdian penuh makna, membuktikan bahwa semangat untuk negeri mampu menembus batas geografis.

Sebanyak 28 relawan dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi bergabung dalam program ini. Meskipun sebagian besar belum pernah menempuh perjalanan jauh, apalagi melalui jalur laut selama berhari-hari, semangat kolaborasi dan kepedulian menyatukan mereka dalam satu misi: menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat di wilayah 3T. Setibanya di Desa Paam, mereka disambut meriah oleh masyarakat melalui alunan suling, tabuhan tambur, dan tarian adat—sambutan yang menghangatkan hati, seolah menyambut anak-anak yang pulang dari perantauan.

Selama delapan hari tinggal bersama warga, para relawan benar-benar menyatu dalam kehidupan masyarakat pesisir: tidur di rumah warga, makan bersama, dan belajar langsung dari kearifan lokal yang selama ini tidak tercatat dalam buku. Program pengabdian ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat secara spesifik, terukur, dan relevan, dengan fokus pada empat sektor utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta ekonomi kreatif dan pariwisata.

Di sektor pendidikan, relawan menyampaikan metode belajar yang menyenangkan dan kontekstual kepada 156 siswa sekolah dasar, sekaligus membagikan buku bacaan bertema kepulauan kepada 67 siswa SMP guna meningkatkan literasi dan kecintaan terhadap tanah air. Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan para pengajar, empat guru honorer diberikan insentif yang dihimpun dari hasil bazar baju layak pakai.

Di sektor lingkungan, lebih dari 50 warga dilibatkan dalam pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga menggunakan teknologi sederhana seperti biopori dan ecobrick. Pelatihan ini bertujuan untuk mendorong praktik pengelolaan limbah yang berkelanjutan di tingkat rumah tangga. Sebagai bagian dari kampanye wisata ramah lingkungan, para relawan juga memasang plang edukatif tentang usia sampah di destinasi ikonik Piaynemo, yang merupakan salah satu tujuan wisata utama di Raja Ampat. Selain itu, rangkaian lomba-lomba seperti tarik tambang, estafet balon, dan gawang mini juga diselenggarakan antara warga dan relawan sebagai upaya untuk mempererat ikatan persaudaraan serta menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menjaga lingkungan.

Penguatan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata dilakukan melalui pendampingan kepada 15 pemandu wisata lokal dalam menyusun buku panduan promosi dan pengelolaan akun media sosial desa. Memberikan pelatihan digitalisasi produk bagi lima pengusaha UMKM dan pelatihan membuat makrame, sebagai ide usaha baru. Puncaknya, dalam Action Youth Festival, para relawan dan warga mempersembahkan pertunjukan budaya berupa tari-tarian khas Papua, di mana relawan pun mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing, menciptakan ruang lintas budaya yang penuh makna dan kebanggaan.

Di sektor kesehatan, lebih dari 350 warga—dari balita hingga lansia—mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan umum dan gigi secara gratis. Pemeriksaan meliputi gula darah, kolesterol, asam urat, hemoglobin, tinggi dan berat badan, serta tindakan perawatan gigi seperti pencabutan, aplikasi fluoride, dan distribusi obat-obatan. Selain itu, satu perawat dan dua kader kesehatan desa mengikuti pelatihan pencegahan stunting sebagai bentuk penguatan kapasitas lokal. Edukasi hidup bersih dan sehat juga diberikan kepada anak-anak sekolah melalui kegiatan menyikat gigi bersama, pertolongan pertama saat tertusuk duri babi, kesehatan reproduksi, pertolongan pertama saat tersedak, cuci tangan enam langkah, dan kampanye gizi seimbang sebagai upaya preventif sejak dini.

Salah satu momen paling mengesankan dalam program ini adalah kegiatan “If I to Be”, di mana para relawan belajar langsung menjalani profesi masyarakat: menjadi nelayan, pengrajin atap dan tikar, pemandu wisata, hingga pengusaha abon ikan. Melalui kegiatan ini, relawan tidak hanya mengabdi, tetapi juga belajar tentang keberdayaan lokal dan potensi desa yang luar biasa bila dikelola secara berkelanjutan.

Program ini dirancang terukur dan dapat dicapai, dengan waktu pelaksanaan delapan hari yang diisi oleh rangkaian kegiatan terstruktur dan berdampak. Dukungan kuat dari pemerintah desa, tokoh adat, dan keterlibatan aktif warga menjadikan seluruh target program tercapai secara optimal. Setiap sektor digarap dengan pendekatan kontekstual yang relevan dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai intervensi singkat, melainkan sebagai pemantik gerakan kolektif masyarakat.

“Sa Bisa, Ko Bisa, Torang Bisa” bukan hanya slogan, melainkan semangat yang hidup dalam setiap langkah Action Youth 13. Program ini membuktikan bahwa ketika satu orang berani melangkah, yang lain akan menyusul, hingga terbentuk kolaborasi yang mampu menjawab tantangan di wilayah 3T. Lebih dari sekadar pengabdian, Action Youth 13 adalah wujud nyata harapan dan solidaritas, bahwa jika satu bisa, maka kita semua bisa—untuk Papua, dan untuk Indonesia yang lebih setara dan berdaya.